• asa limousine service
  • Tjak doel
  • asa limousine service

BISNIS DENGAN MODAL SEADANYA

Seandainya Anda bertemu saya sebelum tahun 1978, barangkali Andapun tidak akan percaya saya bakal jadi pengusaha. Hasil tes kemampuan dan bakat yang pernah saya ikuti menyebutkan kalau saya hanya cocok menjadi pegawai administrasi. Jangankan berniaga, menjadi gurupun tidak disarankan, karena saya dianggap tidak punya cukup kecerdasan dan nyali.

Benar-benar ngenes.com. Padahal, sejak kecil saya paling suka jualan. Gundu, layangan, bahkan kereta dari kulit jeruk bikinan ibu untuk mainan sayapun laku saya jual.

Saat itu saya memang introvert, pemalu, bahkan cenderung takut pada orang lain. Kalau bicara –bahkan dengan teman sebaya, tidak pernah berani memandang mata.

Tapi dengan modal minus berat di jeroan seperti itu, ditambah tidak mendapat restu dari ayah ,yang berkeras hati menghendaki saya jadi insinyur seperti beliau, Alhamdulillah, saya berhasil mengawali bisnis sejak sebelum lulus SMA.

Perjalanan yang saya tempuh lumayan seru. Tidak ada yang mudah. Jatuh, jatuh dan jatuh menjadi menu sehari-hari. Tapi saya tidak pernah menyerah, dan tidak sekalipun berpaling dari jalan yang sudah sejak semula saya pilih.

Ibu saya pernah berkata, “Barangkali kamu memang tidak punya apa-apa, tapi kamu bisa memanfaatkan apapun yang tersedia disekelilingmu untuk mewujudkan keinginanmu.”. Maka, sayapun mengawali bisnis dengan modal seadanya, dan ternyata bisa.

..... BACA SELANJUTNYA



POST TERAKHIR

Pajak Penjualan Aktiva

0 comments


Tujuh tahun lalu teman saya membeli Alphard. Akhir 2011 mobil itu di jual seharga Rp 400 juta. Dalam perhitungan rugi laba, hasil penjualan Alphard yang terdaftar atas nama perusahaan itu seratus persen muncul sebagai obyek pajak tanpa ada pengurangan sedikitpun. Artinya, selain dari pajak laba hasil usaha, teman saya masih ketambahan hutang pajak sebesar 14% dari Rp 400 juta.

Rp 400 juta itu seluruhnya muncul sebagai obyek pajak lantaran saat dijual umur ekonomis alphard sudah habis. Tidak ada lagi beban penyusutan yang harus ditanggung. Sehingga pada akhir hitungan laba perusahaan, Rp 400 juta itu nongol seutuhnya begitu saja, tanpa malu-malu, sebagai tambahan laba sebelum pajak.

Jelas teman saya sangat keberatan kalau yang Rp 400juta itu seluruhnya dianggap sebagai keuntungan. Menurut hitungan secara riil, selama 6 tahun memelihara alphard, keuntungan yang diperoleh teman saya hanya Rp 200 jutaan. Mestinya ya hanya yang Rp 200 juta itu saja yang jadi target pajak.
Apakah memang begitu? Mari kita kupas satu per satu.

Rp 400 juta yang membuat teman saya nyaris stroke itu sebenarnya BUKAN merupakan keuntungan menyewakan alphard, melainkan keuntungan dari penjualan aktiva.

Setiap aktiva punya umur ekonomis, dan selama umur ekonomisnya belum habis, aktiva memiliki nilai ekonomis yang besarnya setiap akhir buku selalu berkurang sebesar nilai penyusutannya dalam setahun. Alphard yang dibeli seharga Rp 800 juta dengan umur ekonomis 6 tahun,  nilai ekonomisnya akan berkurang  sekitar  Rp 134 jutaan per tahun, sehingga pada akhir tahun ke 6 nilai ekonomisnya menjadi nol rupiah.

Karena pada saat alphard teman saya dijual tidak lagi memiliki nilai ekonomis, maka pada akhir perhitungan rugi laba perusahaan, Rp 400 juta itu seluruhnya menjadi tambahan terhadap laba usaha sebelum pajak.

Kalau begitu, lalu dimana keuntungan hasil menyewakan alphard yang Rp 200 juta itu? Bukan 200juta, dan siapapun sulit mengetahui berapa persisnya. Keuntungan itu berbaur dengan keuntungan yang dihasilkan oleh kendaraan-kendaran lain, dan muncul secara kolektif dalam laba sebelum pajak.

Yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah kelayakan investasi alphard itu sendiri. Apakah investasi itu benar-benar memberi kontribusi positif terhadap omset penjualan atau justru hanya menjadi beban bagi perusahaan?

Manakala investasi itu menyebabkan omset penjualan meningkat secara signifikan sementara biaya hanya bertambah secara wajar, merupakan indikasi bahwa investasi memberi kontribusi positif dan layak dipertahankan. Kalau terjadi sebaliknya, berarti investasi hanya menjadi beban bagi perusahaan.

Tapi, memberi kontribusi positif atau malah menjadi beban, seandainya kendaraan dipertahankan dan baru dijual ketika umur ekonomisnya berakhir, hasil penjualannya tetap dianggap sebagai keuntungan yang berasal dari penghasilan di luar usaha, dan tetap menjadi obyek pajak dalam perhitungan PPh Pasal 29


Analisa Laba Sewa Avanza

0 comments
Sebagai pengusaha, kita tidak boleh berhenti pada hitungan laba – Terutama kalau masih masuk kategori laba kotor. Karena perusahaan bersifat going concern – berlangsung selamanya, maka kita harus lebih jeli dalam mengelola kekayaan. Paling utama yang harus dipastikan adalah keuntungan yang kita peroleh memang benar-benar merupakan keuntungan nyata, bukan sekedar pertambahan nominal kekayaan tapi secara kualitatif nilai ekonomisnya justru berkurang.

Dari pembahasan sebelumnya, seandainya Avanza saya jual, dan saya mendapatkan tambahan penghasilan Rp 52 juta, apakah tambahan kekayaan sebesar itu memang merupakan keuntungan riil atau hanya sekedar “tambah duit”?

Karena kita membahas bisnis rumahan, maka sayapun akan menggunakan pendekatan sederhana ala bisnis rumahan.

Dengan modal Rp 107.200.00 dan penghasilan Rp 52.586.700, mestinya saat ini saya memiliki kekayaan Rp 159.786.700 – supaya enak dibaca dan gampang menghitung, kita bulatkan saja menjadi Rp 159 juta. Pertanyaan pertama, uang itu ada dimana?

Kalau avanza saya laku Rp 125 juta, sisanya, sebesar Rp 34 juta di mana? Karena saya tidak mengambil uang hasil sewa Avanza kecuali untuk biaya langsung, mestinya uang itu tersimpan dalam rekening tabungan yang khusus saya gunakan untuk menampung “uang perusahaan”. Dalam catatan mutasi keuangan, ternyata saldonya klop. Artinya, laba kotor yang Rp 52 juta itu memang benar-benar ada dan masih utuh.

Selanjutnya kita periksa, apakah keuntungan yang Rp 52 juta itu memang layak disebut keuntungan atau tidak?

1 Mei 2012 saya mendapat penawaran Avanza baru seharga Rp 163 juta dengan cash back 9 juta. Seandainya saya beli, maka saya hanya perlu membayar Rp 154 juta. Karena harga asesoris sedikit mengalami perubahan, maka biaya investasi untuk cover jog, karpet, foot step sekarang menjadi Rp 5.300.000. Total saya butuh dana investasi sebesar Rp 159.300.000.

Dengan dana tunai Rp 159 juta, saya hanya butuh tambahan Rp 300 ribu untuk mendapatkan Avanza terbaru secara tunai. Dibanding 29 bulan lalu, secara nyata terlihat bahwa daya beli saya mengalami peningkatan. Artinya, uang Rp 52 juta itu memang bisa dianggap sebagai keuntungan. Masalahnya sekarang, seberapa besar laba kotor saya  sesungguhnya? Apakah Rp 52 juta itu seluruhnya merupakan laba?

Supaya tidak tertipu keuntungan semu, saya merasa perlu menghitung laba kotor yang sebenarnya. Caranya sederhana saja: Dengan harga Avanza Rp 154 juta, seandainya saya membayar secara kredit dengan tempo dan nominal angsuran sama seperti ketika saya membeli Avanza lama, ternyata saya harus membayar uang muka Rp 111 juta.

Setelah ditambah asesoris plus GPS, saya harus keluar dana investasi sebesar Rp 120 juta. Dibanding investasi lalu yang hanya Rp 107 jutaan, saya harus nombok Rp 13 juta. Artinya, laba kotor yang sesungguhnya adalah Rp 52 juta – Rp 13 juta, atau sekitar Rp 39 jutaan.



Tapi, bagaimana angka 13 juta itu bisa muncul? Apapula penyebabnya? Kejadian "ajaib" inilah yang harus diketahui oleh para pengusaha.

Dalam dunia investasi terdapat perampok tidak kasat mata bernama inflasi yang akan  menggerogoti kekayaan tanpa disadari oleh siapapun, kecuali orang yang dengan sengaja memantau aktifitasnya.

Dari hitungan njlimet di atas sekarang saya jadi tahu, seandainya saya menjual Avanza tapi tidak segera menukarnya dengan kendaraan baru, seketika itu pula Rp 13 juta dari laba kotor yang saya peroleh lenyap dirampok inflasi. Dan jumlah yang dirampok itu akan terus bertambah dari hari ke hari.






Pendapatan Sewa Innova Selama 48 Bulan

0 comments
Awal april lalu saya menjual salah satu armada Innova. Kendaraan yang saya beli Maret 2008 itu sebenarnya masih layak sewa. Saya tidak pernah menghemat biaya perawatan, sehingga kondisi mesin dan fisiknya tidak kalah dari kendaraan yang hanya digunakan untuk keperluan pribadi. Mobil itu terpaksa dijual karena customer saya yang sebagian besar corporate menghendaki model baru.

Menurut hitungan akuntansi, kendaraan itu masih punya umur ekonomis sampai tahun 2014. Dengan akumulasi penyusutan Rp 33.252.00 per tahun, berarti masih punya nilai ekonomis Rp 66.504.000.

Karena laku dijual Rp 180 juta, maka menurut hitungan akuntansi, saya memperoleh laba kotor Rp 113.496.000. Setelah dikurangi kewajiban membayar PPN sebesar 5% dan pajak perusahaan untuk penghasilan di luar usaha – karena yang Rp 113 lebih itu secara akuntansi dianggap tambahan penghasilan perusahaan, maka keuntungan bersihnya tinggal Rp 89.867.000.

Komentar anak saya singkat saja,  “Bleeehhhhhh ……!!!!”.

Tapi apakah sebenarnya kendaraan saya hanya memberi keuntungan sekecil itu? Iseng saya membuat hitungan sendiri ala usaha rumahan. Berikut ini hasilnya:

Investasi :
- Uang Muka Kredit : Rp 100.000.000
- Investasi Perlengkapan Kendaraan : Rp 6.800.000
- Angsuran selama 23 bulan : 23 x Rp 4.400.200 = Rp 101.204.600
- Total Investasi : Rp 208.004.600
Biaya :
- Pajak Kendaraan + biaya pengurusan : Rp 10.345.000
- Ganti Oli : Rp 8.730.000
- Ganti Ban (1,5 set) ; Rp 7.500.000
- Ganti Aki : Rp 530.000
- Service rutin : Rp 9.080.000
- Biaya Salon Mobil (5 kali) : Rp 1.250.000
Total Biaya : Rp 37.435.000

Pendapatan sewa selama 48 bulan, (dihitung hanya penghasilan kendaraan saja dengan tarif sewa Rp 250.000 per 12 jam atau Rp 325.000 per 24 jam) : Rp 248.000.000

Laba kotor = (Penghasilan + Harga Jual)-(Investasi+Biaya)
                  =(Rp 248.000.000+Rp 180.000.000)-(Rp 208.004.600+Rp 37.435.000)
                  = Rp 182.560.400

Tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan kecuali Alhamdulillah.


Barangkali ada yang bertanya, mengapa saya memakai “Laba Kotor”, padahal seluruh biaya yang keluar sudah dikurangkan? 



Dalam penghitungan laba ala manajemen bisnis rumahan,  yang diperhitungkan baru biaya yang berkaitan secara langsung dengan kendaraan, sementara biaya listrik, ATK, tinta printer, penyusutan printer, pulsa telepon, biaya tenaga cuci, pengeluaran untuk membeli sampo mobil, kanebo, sikat ban karena dianggap sebagai beban rumahtangga, sering diabaikan. 


Berbeda dengan perhitungan keuntungan menurut aturan akuntansi, dimana semua biaya dibebankan secara global dalam penghitungan laba usaha, sehingga penghasilan sebesar Rp 89 jutaan itu bagi perusahaan merupakan tambahan pendapatan netto. Nominalnya lebih kecil ketimbang laba brutto yang dihitung ala bisnis rumahan, tapi bukan berarti kontribusi pendapatan dari sewa Innova hanya sebesar itu.


Bahkan sesungguhnya, Rp 89 juta itu  bukan keuntungan yang berasal dari penghasilan sewa kendaraan. Disebut sebagai penghasilan di luar usaha karena berasal dari selisih hasil penjualan aktiva dikurangi nilai ekonomis yang masih tersisa. Dalam bahasa awam bisa dianggap sebagai keuntungan dari penjualan aktiva.


Seandainya saja Innova saya hanya laku seharga sisa nilai ekonomisnya, atau sekitar Rp 66 juta, bukan berarti perusahaan tidak memperoleh keuntungan sama sekali dari investasi Innova. Perusahaan hanya kehilangan keuntungan dari hasil penjualan aktiva.



Pendapatan Sewa Avanza Selama 29 Bulan

0 comments
Kalau dalam analisa rental mobil yang saya tulis akhir 2009 lalu saya hanya berani berandai-andai karena saya belum pernah menghitung penghasilan kendaraan ala bisnis rumahan, maka inilah hasil yang saya dapat secara riil berdasar pengalaman sendiri.

Dalam post yang lalu saya menggunakan simulasi kredit 3 tahun dengan uang muka Rp 50 juta, sementara yang sebenarnya saya lakukan adalah mencicil selama 2 tahun dengan uang muka Rp 100 juta.

Berikut ini rinciannya:
Harga kendaraan : Rp 147.700.000, cash back Rp 7 juta.

  • Uang muka kredit : Rp 100.000.000
  • Investasi untuk perlngkapan kendaraan (cover jog, karpet dan foot step) : Rp 3.200.000
  • Investasi untuk GPS : Rp 4.000.000
  • Cicilan selama 23 bulan : 23 x Rp 2.610.100 = Rp 60.032.300

Total Investasi : Rp 167.232.300

Penghasilan sampai bulan April 2012 : Rp 111.700.000

Pengeluaran sampai bulan April 2012 :

  • Pajak Kendaraan tahun 2010 dan 2011 + jasa pengurusan : Rp 3.210.000
  • Pulsa GPS : Rp 3.045.000
  • Ganti Oli Mesin & Transmisi : Rp 3.670.000
  • Ganti ban 1 set : Rp 2.800.000
  • Service rutin dan biaya perawatan : Rp 3.800.000
  • Ganti aki : Rp 356.000
Karena selama 24 bulan tidak pernah terjadi apapun yang membutuhkan klaim asuransi, maka setelah lunas, kendaraan tidak diasuransikan lagi. Jadi tidak ada biaya asuransi.

Total biaya yang saya keluarkan selama 29 bulan ; Rp 16.881.000

Dari hitungan kasar di atas, seandainya pada akhir April 2012 kendaraan saya jual dengan harga makelar Rp 125 juta, maka selama 29 bulan menyewakan avanza saya mendapat laba kotor sebagai berikut :

1. Penerimaan :

  • Penghasilan sewa Rp 111.700.000
  • Penjualan Kendaraan Rp 125.000.000
  • Total Penerimaan = Rp 236.700.000
2. Investasi dan Pengeluaran : Rp 167.232.300+ Rp 16.881.000 = Rp 184.113.300
3. Laba kotor : Rp 52.586.700

Secara hitungan kasar, modal Rp 107.200.000 yang saya tanam 29 bulan lalu ternyata membuahkan hasil Rp 52 juta lebih. Apakah laba kotor sejumlah itu layak, atau malah  pepesan kosong yang hanya muncul di atas kertas, sementara jumlah sesungguhnya tidak sebanyak itu? 



Akan kita bahas dalam Analisa Laba Sewa Avanza

Cerita Lain Seputar Pajak

0 comments


Setelah punya NPWP rasa-rasanya apapun yang saya lakukan, kecuali kentut dan bernafas, selalu berurusan dengan pajak. Kalau secara pribadi saja bisa sampai terasa seperti itu, dalam bisnis ribetnya bukan hanya dalam perasaan, melainkan memang nyata.

Tidak ada satu transaksi atau mutasi keuangan sekecil apapun yang bisa saya lakukan tanpa terlebih dahulu mikir resiko pajaknya. Jadi bukan sekedar menghitung berapa pajak yang harus di bayar, tapi memikirkan resiko apa yang akan terjadi nanti seandainya saya begini atau begitu.

Masalah sepele saja, urusan makan siang pegawai. Antara menyediakan nasi berikut lauk pauk untuk makan siang atau memberikan “mentah” berupa uang makan, resiko pajaknya beda jauh.

Sekarang, urusan rutin seperti itu memang bukan lagi masalah, tapi itu bukan berarti saya bisa leluasa berpaling dari prosedur akuntansi – pekerjaan yang sebenarnya sangat tidak saya sukai. Banyak supplier, penerima komisi penjualan dan customer yang tidak mau berurusan dengan pajak, sementara dari sisi administrasi saya, mereka merupakan wajib pajak, dan perusahaan saya wajib memotong atau memungut pajak dari orang-orang itu .

Mestinya saya tidak perlu minta ijin memotong komisi penjualan. Berikan saja penghasilan nettonya plus bukti potong pajak, habis perkara. Tapi kalau saya nekad berbuat seperti itu, ya habis beneran. Kali lain saya tidak akan menerima order lagi dari rekanan yang saya paksa “menjadi orang bijak” itu.

Nominal yang dipotong sebenarnya tidak besar, tapi berapapun nilainya kalau bernama potongan memang tidak pernah enak.

Belum lagi masalah NPWP. Sebagian besar supplier saya sebenarnya punya NPWP, tapi ogah disetori pajak. Saya maklum. Kebanyakan masih menggunakan NPWP pribadi, kalau terlalu sering menerima setoran pajak, hitungan PPh pasal 29 nya pasti lebih bayar.

Di satu sisi saya wajib memotong dan setor, di sisi lain, para wajib pajaknya tidak mau penghasilannya dipotong. Artinya, saya harus mencari solusi supaya nantinya tidak terkena penalti pajak. Seberat-beratnya pelanggaran lalulintas, urusan bisa langsung selesai seketika, tapi tidak dengan penalti pajak. Urusannya puanjaaaang dan melelahkan.

Nah, sekarang, siapa yang masih bisa bilang kalau jadi pengusaha itu bebas? Selagi kita tidak mampu menggaji orang yang mumpuni mengurus akuntansi pajak, selama itu pula kita tidak bakal leluasa menjalankan bisnis tanpa direcoki masalah pajak.

Beberapa teman memilih memakai jurus “bonek”. Bandha nekad. Bisnis jalan dulu, masalah pajak urusan belakang.

- Entrepreneur itu orang bebas. Kita pakai duit sendiri, nanggung resiko sendiri, memberi makan orang banyak, sementara pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja, ngapain takut sama pajak?

Barangkali saya memang paranoid dan terlalu berlebihan. Tapi apapun itu, yang pasti semua resiko pajak selalu saya perhitungkan terlebih dahulu. Termasuk ketika saya memutuskan membatasi kendaraan yang saya beli atasnama perusahaan, karena menyewa dari para supplier bukan cuma menghemat investasi dan mengurangi biaya perawatan, tapi sekaligus menyederhanakan proses administrasi pajak.

Bulan lalu salah seorang teman uring-uringan gara-gara pada hitungan PPh pasal 29 hutang pajak perusahaan miliknya naik berlipat, tidak sebanding dengan kenaikan omset penjualan. Laba sebelum pajaknya bertambah 400 juta lebih, berasal dari “keuntungan” menjual salah satu armada yang sudah habis umur ekonomisnya.

- Untung 400 juta dari moyang lu?”

Nah, lho, moyang saya yang tidak tau apa-apa malah kena getahnya.

Menurut hitungan secara awam, hasil sewa plus hasil penjualan dikurangi investasi dan biaya, keuntungannya memang tidak sebesar itu. Masalahnya, menurut hitungan akuntansi pajak, karena nilai ekonomisnya sudah habis, maka hasil penjualan yang 400 juta lebih itu seluruhnya muncul sebagai tambahan keuntungan.

Dengan kata lain, yang 400 juta lebih itu seratus persen menjadi obyek pajak. Karena perusahaan teman saya masih masuk kelas UKM, maka yang 400-an juta itu “hanya” terhutang pajak 14% saja. Lumayan ...... Maksud saya, lumayan membuat teman saya uring-uringan.

Iseng saja kita hitung, 400 juta lebih itu seandainya dibulatkan jadi 400, maka pajak terhutangnya 64 juta. Belum lagi PPn sebesar 5 persen yang juga harus disetor untuk penjualan barang bekas. Pembeli barang bekas mana mau dibebani PPN? Artinya, teman saya mesti nomboki PPNnya – kalau tidak, tau sendiri resikonya. Cepat atau lambat pasti akan ketahuan dan ditagih berikut dendanya. Total jendfral, penjualan aktiva itu membuat teman saya terhutang pajak 84 jutaan.

Iseng lagi, ketika dihitung secara riil, selama 6 tahun memelihara Alphard, teman saya cuma mendapat keuntunggan netto tidak lebih dari 200 juta – karena permintaan sewa Alphard memang tidak setinggi Innova. Setelah dikurangi kewajiban pajaknya, yang tersisa kurang dari 125 juta.

Untungnya, harga Alphard baru tidak jauh beda ketimbang saat dulu membeli. Kalau saja harga Alphard selincah harga Innova, yang naik lebih dari 50% dalam kurun waktu 6 tahun, jelas secara riil teman saya tekor habis.

Saya juga menyewakan Alphard. Kendaraan saya sewa dari supplier. Tanpa modal investasi, tidak keluar biaya perawatan, selama 6 tahun hasilnya tidak beda jauh dari keuntungan netto yang diperoleh teman saya.

Kalau saja teman saya mau sedikit lebih serius mikir pajak, dia tidak perlu “keluar tenaga” banyak untuk mendapat penghasilan yang sebenarnya bisa diperoleh “tanpa modal” sama sekali.

Tapi, apakah benar kontribusi keuntungan riil dari Investasi Alphard hanya sekecil itu? Kita bahas dalam post selanjutnya.

Persiapan Menetaskan Telur Gurame

0 comments
Kalau saya memilih mendahulukan membahas penetasan, itu bukan berarti bahwa menetaskan telur gurame adalah proses yang paling mudah dikerjakan. Mudah atau gampang ...... halah, beginilah resikonya kalau ngedit naskah sambil makan.

Pelajaran pertama, pada saat ngurus telur, jangan disambi melakukan aktifitas lain kecuali bernafas. Tangan tidak boleh tercemar sabun, bau tembakau dan terutama minyak. Jangan pula terlalu sering mangap. Bukan apa-apa sih, sekedar berjaga-jaga supaya tidak ada laler salah masuk.

Tempat penetasan ideal adalah akuarium yang dilengkapi dengan aerator, tapi karena kita mau mulai dengan modal seadanya, maka ember bekaspun bisa dipakai, asal sudah dibersihkan terlebih dahulu dari bahan-bahan yang sekiranya bisa menganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan embrio.

Penting pula diingat, jangan nyerobot ember dapur tanpa ijin istri. Sebaiknya gunakan ember lebar - itu lho, yang biasa digunakan untuk mencuci baju. Proses penetasan lebih membutuhkan permukaan air yang luas ketimbang kedalaman. Air cukup diisikan sampai ketinggian 30 cm.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan air. Menurut teori budidaya gurame, air untuk penetasan telur punya beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain, suhu berkisar 20 - 32 derajat celcius, kadar oksigen terlarut 7,8 ppm, kandungan karbondioksida terlarut 15-25 mg/liter, derajad keasaman atau PH berkisar 6-8, dan masih ada beberapa lagi.

Pertamakali mengetahui syarat-syarat itu, saya sempat panas dingin. Repot amat. Tapi ternyata semua itu tidak lebih dari air sumur. Asalkan tidak lengket atau tidak licin di tangan, tidak berbau dan berasa tawar, air sumur cocok digunakan sebagai media penetasan. Kalau diperlukan, untuk menjaga kadar oksigen terlarut, bisa ditambahkan aerator.

Idealnya, air pertama dicampur air kolam pemijahan supaya telur tidak mengalami perubahan kondisi lingkungan secara mendadak dan dicampur 2 sendok teh methylene blue. Yang dipakai sendok teh ya, bukan sendok makan. Setelah itu, aerator dinyalakan sejak sehari sebelum telur ditebar.

Sementara untuk menjaga supaya tidak terjadi perubahan suhu secara mencolok, bisa digunakan heater. Tapi menurut saya, kalau cuma seember atau dua, cukup embernya saja yang diletakkan di ruang tertutup.

Setelah semua sarana siap, saatnya untuk membeli telur. Ini adalah pekerjaan gampang-gampang sulit. Kebanyakan penjual telur punya itikad baik dan hanya menjual telur layak tetas, masalahnya, dagelan nasib kadang membawa cerita lain. Jadi, saat membeli, lupakan selera Anda terhadap keindahan.

Telur gurame tidak mengenal mode. Sejak dulu sampai kapanpun, telur yang layak tetas selalu berwarna kuning cerah dan bening. Warna lain, terutama putih, harus dihindari, karena yang berwarna putih adalah telur mati yang kemungkinan besar sudah berjamur. Dan jamur itu bisa menular ke telur lain yang sehat.

Di daerah saya telur biasanya dijual dalam takaran sendok. Ini cara menakar paling mudah ketimbang menghitung satu-satu. Memang ada cara praktis menghitung jumlah telur menggunakan kotak penakar ukuran 8 x 4 cm persegi. Satu kotak peres rata-rata berisi 1000 butir - katanya sih, saya tidak pernah membuktikan. Tapi ketimbang dua kali kerja, nyendok telur lalu mengatur di kotak takaran - dengan resiko telur pecah atau rusak, menurut saya, takaran sendok memang lebih praktis.

Telur tidak langsung ditebar di ember. Supaya tidak mengalami gagap suhu - maksud saya shok akibat perubahan temperatur air secara mendadak, telur sebaiknya diletakkan dalam wadah kecil, lalu diapungkan beberapa menit di permukaan air ember.

Meskipun saya memakai kata "tebar", bukan berarti telur boleh digerojog begitu saja ke ember. Ujung wadah pelan-pelan dibenamkan ke air. Biarkan air ember mengalir sedikit demi sedikit ke wadah.





The Gepeng's Way

0 comments
Anda percaya kalau saya bilang ada driver rental di Yogyakarta yang penghasilannya lebih dari 5 juta per bulan? Di Jakarta mungkin banyak, tapi di kota dengan biaya hidup rendah sekaligus upah kecil macam Yogyakarta, penghasilan 5 juta per bulan untuk seorang driver termasuk luar biasa, tapi memang ada - dan tidak sedikit yang bisa seperti itu.

Memang ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Tidak sulit, tapi ternyata tidak banyak yang ngerti, apalagi melakukannya.

Berprofesi sebagai driver kalau yang dikerjakan hanya sebatas nunggu giliran narik, lalu mancal mobil untuk melaksanakan tugas, jelas tidak mungkin bisa punya penghasilan besar. Untuk menambah penghasilan, beberapa driver memakai cara kurang terpuji, membujuk setengah memaksa supaya penumpangnya belanja sekedar memburu komisi dari toko penjual suvenir atau oleh-oleh.

Sekarang para penyewa mobil jauh lebih pinter. Mereka punya berbagai cara supaya belanjaannya terhindar dari beban komisi. Maka para driver yang masih memakai cara kuno untuk mencari tambahan penghasilan jelas keok habis.

Bukan ngecap, sopir saya tidak ada yang kampungan seperti itu. Masalahnya, penumpang yang dilayani kalau bukan tamu negara, orang instansi yang sedang menjalankan tugas paling apes adalah crew event organizer. Mereka semua jelas tidak akan belanja. Atau, kalaupun ada acara belanja, pasti sudah ada panitia yang ngurus segala-galanya, termasuk ngurus komisi supaya semua masuk dompet sendiri.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh sopir saya adalah mendongkrak jam terbang. Semakin sering narik sudah pasti honor tarikan - diluar gaji tetapnya, semakin tinggi. Tapi jelas mereka tidak mungkin kong kalikong dengan direktur operasional supaya diberi jatah tarikan lebih banyak. Disamping direkturnya kebal sogok, masing-masing driver sudah punya langganan fanatik yang tidak mau diganti driver lain.

Sebenarnya belakangan ini saya tidak lagi menyewakan mobil. Orang-orang yang menggunakan kendaraan saya cenderung memilih sopir, dan pilihan itulah yang kemudian menyebabkan kendaraan saya disewa.

Bahkan pernah ada pelanggan, seorang petinggi salah satu departemen, yang tidak perduli mau dikasih kendaraan apa yang penting drivernya harus Gepeng.

Gepeng itu nick name driver saya yang ternyata justru lebih ngetop ketimbang nama aslinya. Orangnya jauh dari kurus. Sedikit saja berani makan ngawur, berat badannya bisa tembus 100 kg. Kalau Anda pengin tahu seberapa besar orangnya, seandainya nyetir altis, maka jok depan yang mestinya muat 2 orang serasa penuh sesak meskipun yang duduk cuma Gepeng seorang.

Gepeng pinter among tamu. Dikasih penumpang uzur, tanpa ada yang meminta, dia rela mengantar dan bahkan nunggu di depan toilet ketika tahu penumpangnya bakal mengalami kesulitan di tempat keramat itu. Kalau kebetulan penumpangnya ngajak balita - inilah hebatnya Indonesia, acara dinas tapi ada yang bawa keluarga, Gepeng juga pinter mengambil hati balita - yang jelas tidak mungkin disogok.

Karena disukai balita sampai orang uzur, otomatis Gepeng membuat para protokol merasa aman dan nyaman "menitipkan" tamu istimewa mereka. Maka Gepeng masuk sebagai salah satu driver favorit mereka. Dengan demikian jelas membuat job order untuk Gepeng juga meningkat. Honor tarikannya jadi tinggi, dan kalau ditambah tip dari orang-orang yang puas terhadap performancenya, tidak jarang take home paynya lebih besar ketimbang gaji saya.

Kalau Anda bertanya, apa hubungan cerita tentang gepeng dengan kewirausahaan, saya bisa bilang, meskipun hanya pegawai, gepeng sebenarnya adalah wirausaha tulen. Bekerja dengan penuh semangat dan memberi pelayanan lebih untuk meraih penghasilan maksimal. Sementara banyak para pengusaha yang justru mengharap mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan modal dan usaha yang sekecil-kecilnya. Yang model begitu menurut saya lebih pantas disebut perampok ketimbang pengusaha.

Mau bekerjakeras dengan penuh semangat dan bersedia memberi pelayanan lebih adalah syarat mutlak seorang entrepreneur yang tidak bisa ditawar. Tanpa ketiga itu hanya ada penipu, pencuri, spekulan atau orang bodoh yang merasa berjiwa entrepreneur.